Betel Leaf Natural Enemy of Ectoparasites in Tetra Ornamental Fish

5 min read

Ikan hias tetra merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang populer di masyarakat. Ciri khas dari ikan tetra yaitu memiliki warna tubuh perak mengkilat dan warna mencolok lainnya. Ikan hias tetra akan tampak berwarna pada lingkungan yang gelap. Ikan hias tetra masuk komoditas unggulan budidaya ikan hias dengan harga jual yang terjangkau. Ikan hias tetra mempunyai potensi besar untuk pemasarannya baik dalam negeri maupun luar negeri.

Budidaya ikan tetra menjadi peluang bisnis menjanjikan bagi pecinta ikan hias. Di sisi lain, ikan hias tetra memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap suhu yang tidak menentu dan aerasi deras. Tingkat daya tahan tubuh ikan dapat mempengaruhi kesehatan ikan. Akibatnya apabila terjadi perubahan kualitas air ikan akan mudah stress dan terinfeksi oleh patogen, seperti parasit, fungi, hingga bakteri  (Herawati., 2009).

Foto: dunia-perairan.com

Hal tersebut dapat memperpendek usia ikan ketika di ekspor sekaligus menurunkan nilai jual ikan. Parasit jenis ektoparasit menjadi penyebab mortalitas tertinggi ikan hias tetra yaitu parasit yang termasuk ke dalam jenis protozoa cilliata seperti Ichthyopthiris multifiliis, Epistylis dan jenis trematoda seperti Dactylgtrus dan Gyroductylus (Herawati., 2009).

Pengetahuan tentang jenis parasit yang dapat menyerang ikan hias tetra perlu ditingkatkan di kalangan pembudidaya ikan hias tetra, sehingga para pelaku budidaya ikan tidak mengalami kebingungan atau kesulitan ketika ikan menunjukkan gejala yang tidak normal akibat investasi ektoparasit. Investasi parasit pada ikan tidak bisa dianggap masalah sepele, karena dapat memberikan dampak pada kegiatan budidaya

Investasi ektoparasit pada ikan mengakibatkan perubahan fisiologis, patologis, hingga mortalitas. Mulai dari kekurangan oksigen, pergerakan tidak seimbang, dan nekrosis yaitu kematian sel secara terus menerus. Investasi ektoparasit pada ikan harus segera diatasi agar tidak menimbulkan kerugian besar bagi pelaku budidaya ikan hias tetra. Salah satu nya yaitu dengan metode pengobatan tradisional.

Rahasia ekstrak daun sirih untuk pengobatan Ikan Tetra

Pengobatan menggunakan bahan kimia dapat mengakibatkan resistensi pada ikan jika digunakan secara berlebihan. Selain itu penggunaan bahan kimia dapat menimbulkan residu. Residu dari bahan kimia yang digunakan untuk pengobatan pada ikan dapat mencemari lingkungan karena sulit didegradasi. Bahan alami berfungsi sebagai anti mikroba yang ramah lingkungan, sehingga dapat terhindar dari pencemaran (Juliana dkk., 2016). Keberadaan daun sirih sebagai bahan alami melimpah di alam sehingga mudah didapatkan di lingkungan sekitar. Tentunya akan memberikan keuntungan secara finansial bagi pembududaya ikan karena tidak perlu mengeluarkan biaya lebih.

Minyak atsiri yang terkandung dalam daun sirih berperan sebagai antiseptik kuat karena mengandung berbagai macam senyawa fenol dan non fenol. Antiseptik chlavicol CaH3OH di dalam daun sirih dapat berfungsi sebagai zat penghambat perkembangbiakan dan pertumbuhan ektoparasit Ichtyopthiris multifiliis, Epistylis, Dactylgtrus dan Gyroductylus. Selain itu, daun sirih dapat berfungsi sebagai antioksidan, antiseptik, bakterisida dan fungisida (Herawati., 2009).

Daun sirih dapat dengan mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Tumbuh secara menjalar dan menempel pada substrat, seperti dinding bangunan, pagar rumah, bebatuan, dan lainnya. Selain itu, daun sirih juga banyak dijual di pasar tradisional karena banyak dimanfaatkan untuk pembuatan obat herbal atau dikonsumsi secara langsung.

Pangkal tanaman ini adalah tanaman perdu berkayu, merambat atau memanjat, tinggi tanaman bisa mencapai 15 meter. Batangnya silindris, agak berbonggol, beralur, batang muda berwarna hijau, batang tua berwarna coklat muda. Daun pangkal  berbentuk hati atau bulat, panjang 5-18 cm, lebar 2,5-10,75 cm. Perbungaannya berupa tangkai majemuk, bracts sekitar 1 mm,  jantan, betina atau bunga. Buah berbiji, bulat dan  hijau keabu-abuan, tebal 1-1,5 cm, biji agak bulat, panjang 3,5-5 mm (Widiyastuti dkk., 2016)

Kenali dosis ekstrak daun sirih yang tepat

Prosedur pengobatan ikan diawali dengan membuat serbuk daun sirih. Daun sirih segar dicuci menggunakan air bersih lalu dikeringkan di bawah sinar matahari hingga  kering dengan  tanda daun mudah  dipatahkan.  Daun kemudian dihaluskan dengan blender, setelah itu diayak dengan saringan sampai didapatkan bubuk yang halus. Bubuk daun sirih disimpan disuhu runang dalam wadah tertutup dan terhindar dari sinar matahari.

Metode pengeringan daun sirih sebelum diserbuk memberikan kemudahan dalam pengelolaan dan lebih tahan disimpan dalam jangka waktu lebih lama, sehingga mudah digunakan setiap waktu (Nugraheny dkk., 2020).

Selanjutnya pemberian obat dilakukan dengan metode perendaman selama 12 jam. Dosis pemberian bubuk daun sirih sebanyak 4 gr/L. Setiap 1 liter air ditambahkan 4 gram bubuk daun sirih. Pengobatan ektoparasit secara tradisional menggunakan daun sirih berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan ektoparasit di dalam perairan.

Kandungan clavicol yang terdapat di dalam daun sirih yang memiliki rasa pedas dan bersifat parasitic. Mekanisme kerja clavicol di dalam daun sirih berfungsi sebagai penghambat perkembangbiakan ektoparasit. Ini menyebabkan ektoparasit tidak dapat mengalami pertumbuhan ataupun berkembang biak dengan baik dan lambat laun akan mengalami kematian.

Penggunaan minyak atsiri yang terkandung di dalam daun sirih secara berlebihan untuk ikan hias tetra tidak diperkenankan. Ini dikarenakan perairan  yang mengandung konsentrasi tinggi minyak atsiri akan memberikan rasa pedas pada ikan. Perubahan tingkah laku yang terlihat pada ikan sebagai respon terhadap rasa pedas minyak atsiri yaitu terlihat ukuran mata membesar seperti akan terlepas dari kelopak mata, kulit mengelupas,  dan sirip menggeripis (Herawati.. 2009).

Ikan yang sehat setelah mengalami pengobatan dengan menggunakan daun sirih akan kembali bersifat normal hal ini dapat ditunjukkan oleh warna insang yang kembali cerah dan pergerakan sirip terlihat lincah (Herawati.. 2009). Oleh karena itu, sebaiknya tidak memberikan dosis ekstrak daun sirih secara berlebihan pada ikan hias tetra, karena semakin tinggi dosis yang diberikan semakin kecil jumlah ikan yang mampu bertahan hidup ketika direndam ekstrak daun sirih.

Daftar Pustaka

Herawati, V. E. (2009). Pemanfaatan daun sirih (piper betle) Untuk menanggulangi ektoparasii’pada ikan hias tetra. Pena Akuatika: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 1(1).

Juliana, J. (2017, October). Intensitas Ektoparasit Monogenea (Cichlidogyrus sp) pada Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Melalui Pemberian Larutan Daun Sirih (Piper Betle Linn) Yang Ramah Lingkungan. In Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil (Vol. 1, No. 1).

Nugraheny, D. F., Ekasanti, A., Listiowati, E., Setyawan, A. C., & Syakuri, H. (2021). Pengendalian Trichodina sp. pada Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Menggunakan Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.). Sainteks, 17(2), 145-158.

Widiyastuti, Y., Haryanti, S., & Subositi, D. (2016, April). Karakterisasi morfologi dan kandungan minyak atsiri beberapa jenis sirih (Piper sp.). In Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences (Vol. 3, pp. 474-481).

Penulis: Diva Desmieta (Mahasiswa S1 Akuakultur SIKIA Unair)

Editor: Acn

source
https://unair.ac.id/

You May Also Like

More From Author