Langkah-langkah Bantuan Hidup Dasar untuk Awam: Penanganan Henti Jantung yang Cepat dan Efisien untuk Menyelamatkan Nyawa

Dalam keadaan darurat seperti henti jantung, setiap detik sangat berharga. Henti jantung terjadi ketika jantung tiba-tiba berhenti berdetak, yang menghentikan aliran darah ke seluruh tubuh dan dapat menyebabkan kerusakan otak atau kematian dalam hitungan menit. Ketika seseorang mengalami henti jantung di lingkungan non-medis, seperti di rumah atau di tempat umum, reaksi cepat dari saksi-saksi sekitar bisa menjadi penentu bagi keselamatan korban. Melalui pemahaman akan langkah-langkah yang benar dalam bantuan hidup dasar, orang awam dapat memberikan pertolongan yang tepat pada saat yang tepat, memberikan kesempatan bagi korban untuk bertahan hidup hingga bantuan medis lebih lanjut tersedia. Dengan latar belakang ini, artikel akan menyoroti langkah-langkah bantuan hidup dasar untuk menangani henti jantung dengan cepat dan efisien, sehingga dapat menyelamatkan nyawa seseorang di lingkungan sehari-hari. Terdapat 5 tahapan dalam melakukan bantuan hidup dasar, yaitu sebagai berikut:

  1. 3A (Aman diri, Aman Lingkungan, dan Aman Korban)
    Sebelum menolong korban, pastikan bahwa penolong sudah aman. Setelah itu kita memastikan lingkungan sekitar korban aman sehingga pada saat memberikan pertolongan, penolong tetap aman. Apabila lingkungan tidak aman, penolong dapat memindahkan korban ke tempat yang aman atau yang tidak membahayakan. Kemudian korban dipastikan dalam kondisi yang aman sehingga dapat diberikan pertolongan oleh penolong dengan bantuan yang optimal.
  2. Cek kesadaran
    Setelah melakukan 3A, maka langkah selanjutnya adalah dengan mengecek kesadaran korban dengan menepuk bahu korban sembari memanggil korban dengan keras “Pak /Bu/Mas/Mba” hingga 3 kali.
  3. Call for help
    Apabila korban tidak merespon setelah dilakukan cek kesadaran, maka minta tolong kepada orang sekitar untuk memanggil bantuan dengan menyebutkan nama, jenis kelamin korban, jumlah korban, kondisi korban, lokasi kejadian, apa yang diperlukan, dan nomor yang dapat dihubungi.
  4. Cek nadi dan napas
    Setelah cek kesedaran korban tidak merespon, maka penolong langsung cek nadi dan napas dengan teknik look, listen, and feel selama maksimal 10 detik, yang mana look dengan melihat pergerakan dada korban, listen dengan mendengarkan suara napas korban, dan feel merasakan nadi karotis korban di leher.
  5. Melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP))
    Apabila tidak ada nadi dan napas, maka dapat dilakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau pijat jantung di setengah sternum bagian bawah. RJP terdiri dari dua tahapan yaitu kompresi dada dan ventilasi, yang mana 1 siklus terdiri dari 30 kompresi dada dan 2 ventilasi. Akan tetapi, jika RJP dilaksanakan oleh orang awam maka hanya kompresi dada saja. Langkah-langkah dari RJP sebagai berikut:
    1) Penolong berada di samping leher dan bahu orang tersebut dengan posisi berlutut yang lurus.
    2) Letakkan satu telapak tangan penolong di stengah sternum bagian bawah dan letakkan tangan lainnya di atas tangan pertama dengan jarijari saling terjalin.
    3) Lakukan penekanan dada dengan menggunakan kekuatan tubuh bagian atas bukan hanya menggunakan kekuatan lengan agar tekanan yang dihasilkan lebih kuat. Penekanan dada dilakukan kira-kira sedalam 5-6 cm sebanyak 30 kali tanpa henti dengan kecepatan sekitar 100 hingga 120 kali per menit.
    4) Setelah dilakukan kompresi dada sebanyak 30 kali pijatan maka dilanjutkan pemberian ventilasi sebanyak 2 kali.
    5) Setelah RJP sudah satu siklus atau dua menit, maka segera cek nadi dan napas, jika nadi dan napas belum teraba maka segera lakukan kompresi dada kembali.
    6) Setelah terdapat nadi dan napas, maka dapat melakukan recovery position. Recovery position dapat dilakukan dengan punggung tangan atas menopang wajah pasien, lutut kaki ditekuk kurang lebih 90 derajat, kemudian korban posisikan miring. Pada saat posisi ini, penolong harus tetap mengevaluasi kondisi korban.
    7) Hentikan RJP apabila:
    a. Penolonga:
    (+) terdapat petugas medis atau bantuan lebih lanjut yang telah datang
    (-) penolong kelelahan
    b. Lingkungan
    (+) terdapat alat medis yang datangb
    (-) kondisi lingkungan yang tidak aman, keluarga korban meminta dihentikan saja
    c. Korban
    (+) korban ROSC (Return of Spontaneus Circulation)
    (-)korban menunjukkan tanda-tanda kematian

Pada saat melakukan RJP, kita harus memenuhi 5 High Quality CPR, yaitu sebagai berikut:

  1. Frekuensi pijatan: 100 – 120 kali per menit
  2. Kedalaman pijatan: 5 – 6 cm
  3. Minimal interupsi pada saat melakukan pijatan
  4. Dada mengemban kembali secara sempurna
  5. Cegah hiperventilasi saat melakukan pijatan

You May Also Like

More From Author